Penulis: Ali Romaitani, (Ketum HMI Cabang Pamekasan Komisariat Al-Khairat)
Setiap tanggal 1 Juni, kita kembali memperingati Hari Lahir Pancasila. Upacara digelar, pidato disampaikan, poster dan ucapan memenuhi media sosial.
Anak-anak sekolah diberi libur, instansi pemerintah memasang spanduk, dan medsos kita tiba-tiba ramai postingan tentang Pancasila adalah dasar negara sekaligus ideologi bangsa Indonesia.
Namun setiap kali momen itu datang, muncuk pertanyaan sejauh mana Pancasila benar-benar hidup dalam keseharian kita?
Hari ini, siapa yang masih hafal seluruh sila Pancasila? Siapa yang masih memahami maknanya secara utuh? Coba tanya lebih dalam lagi, siapa yang menjadikan nilai-nilainya sebagai pedoman dalam mengambil keputusan sehari-hari?.
Pertanyaan kesannya menghakimi. Tapi perlu disadari bahwa sebagian besar masyarakat kita sedang berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih mendesak daripada menghafal butir-butir Pancasila.
Ada yang sedang memikirkan harga beras. Memikirkan biaya sekolah anak. Memikirkan cicilan. Memikirkan lapangan pekerjaan yang semakin kompetitif.
Memikirkan tabungan yang makin menipis. Memikirkan apakah bulan depan usaha mereka masih bertahan. Bahkan sebagian ada yang mikir besok makan apa. Segala kesibukan harian itu seakan menjauhkan masyarakat untuk merenungi lebih dalam makna Pancasila.
Di tengah situasi seperti itu, rasanya sulit berharap masyarakat setiap hari berdiskusi tentang negara secara filosofis.
Yang lebih mudah adalah mencari secangkir kopi manis untuk mengusir lelah, atau menikmati rokok setelah seharian bekerja. mereka bukan tidak peduli pada bangsa ini, melainkan karena hidup sudah menuntut mereka menyelesaikan persoalan yang ada tepat di depan mata.
Ditambah lagi pemberitaan yang tidak ada habisnya dari elite politik kita yang penuh akrobatik. Orang-orang yang sedang menjabat yang justru kita harapkan menjadi cerminan dari hidup bernegara berdasarkan Pancasila. Tapi setiap hari yang terpapar justru lebih banyak tentang gaya hidupnya yang kadang membuat masyarakat terheran-heran.
Sebuah ironi, sering disebut Pancasila sebagai dasar negara, sumber nilai, bahkan fondasi kehidupan berbangsa. Namun dalam realistasnya, Pancasila terkadang diperlakukan seperti benda bersejarah yang cukup dikeluarkan dari lemari setiap tanggal 1 Juni.
Diperingati. Dikenang. Dibuat banner dan palmlet oleh pejabat, politisi dan instansi kemudian disimpan kembali rapat rapat sampai tahun depan. jika benar Pancasila adalah dasar kehidupan berbangsa, seharusnya ia tidak hidup setahun sekali. Ia harus hadir setiap hari.
Sila pertama bukan hanya tentang mengucapkan ketuhanan, tetapi tentang nilai-nilai ketuhanan dukehidupan sehari-hari seperti kejujuran ketika tidak ada yang mengawasi.
Sila kedua bukan hanya tentang kemanusiaan, tetapi tentang cara kita memperlakukan orang lain, terutama diruang media sosial kita yang semakin liar.
Sila ketiga bukan hanya tentang persatuan, tetapi tentang kemampuan menahan diri agar tidak menjadi bagian dari perpecahan di masyarakat.
Sila keempat bukan hanya tentang musyawarah, tetapi tentang kesediaan mendengar pendapat yang berbeda. Kesediaan menuntaskan masalah dengan lebih bijak dan penuh empati.
Dan sila kelima bukan sekadar slogan keadilan sosial, melainkan upaya nyata menghadirkan kesempatan yang lebih adil bagi seluruh rakyat Indonesia.
Perbedaan terbesar antara generasi bapak kita, mereka tumbuh dengan narasi besar tentang ideologi, perjuangan, dan pembangunan bangsa. Sementara generasi hari ini tumbuh dalam dunia yang dipenuhi algoritma, target, persaingan ekonomi, dan ketidakpastian tentang masa depan.
Tantangannya bukan lagi sekadar mengajarkan Pancasila untuk dihafal. Berubah, agar Pancasila kembali relevan untuk dijalani. sebuah ideologi negara tidak ditentukan oleh seberapa sering ia diperingati, melainkan seberapa jauh ia dipraktikkan.
Pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah apakah Pancasila masih ada dalam buku pelajaran kita dan terus dihafal oleh-oleh murid-murid sekolah. Tetapi apakah Pancasila masih ada dalam kehidupan kita.
Karena bangsa tidak dibangun oleh hafalan. Bangsa dibangun oleh nilai yang hidup dalam tindakan sehari-hari.













