Daerah  

Di Balik Sejuknya Tagangser Laok: Catatan Pengabdian dan Misi Mengubah Tradisi Lewat Bank Sampah

Ejatoday.com — Banyak orang membayangkan Pulau Madura sebagai kawasan pesisir dengan cuaca terik dan hawa panas yang menyengat.

Namun, persepsi itu seketika menguap saat kami menapakkan kaki di Desa Tagangser Laok, sebuah desa tersembunyi di Pamekasan.

Bukannya disambut hawa panas yang gersang, kami justru didekap oleh hembusan angin malam yang sangat dingin dan menusuk tulang.

Suasananya begitu sejuk dan berkabut, seolah membawa kami bernostalgia dengan dinginnya hawa pegunungan di Kota Batu, Malang.

Keistimewaan desa ini tak berhenti pada pesona alamnya yang asri. Tagangser Laok adalah wilayah dengan denyut spiritualitas yang sangat kuat.

Sayup-sayup lantunan ayat suci Al-Qur’an sering kali memecah keheningan kabut malam.

Keberadaan enam pondok pesantren yang mengelilingi desa menjadikan nuansa Islami begitu melekat.

Karakter masyarakatnya pun tumbuh menjadi pribadi yang religius, tenang, dan bersahaja.

Tanda Tanya yang Luruh oleh Canda Tawa
Kedatangan rombongan Kuliah Kerja Nyata (KKN) kami di tengah ketenangan desa awalnya memunculkan tanda tanya di benak masyarakat setempat.

Terlihat jelas raut keterkejutan dari wajah warga saat mengamati rombongan kami. Tatapan mereka seolah menyimpan rasa penasaran yang besar: “Siapa mahasiswa-mahasiswa ini? Dan program apa yang hendak mereka kerjakan di desa kami?”

Beruntung, ketegangan dan rasa canggung itu tidak berlangsung lama.

Kepala Desa beserta jajaran perangkat desa menyambut kami dengan tangan terbuka. Tidak ada sambutan formal yang kaku atau membosankan. Sebaliknya, kami justru disuguhi candaan dan gurauan khas masyarakat setempat yang sangat akrab dan mengalir natural.

Sambil menyeruput kopi hitam yang disuguhkan, tawa yang pecah di malam pertama itu sukses mencairkan kebekuan udara malam, sekaligus membuat kami merasa diterima layaknya keluarga sendiri.

Mengikis Kebiasaan Lama Lewat Bank Sampah

Setelah beradaptasi, kami mulai berhadapan dengan realita kondisi lingkungan desa. Dari hasil observasi, kami menemukan satu tantangan besar dalam hal pengelolaan kebersihan.

Masyarakat Tagangser Laok ternyata masih memegang erat kebiasaan lama, yaitu membuang dan membakar tumpukan sampah langsung di halaman rumah masing-masing. Kepulan asap dari pembakaran ini bukan hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga mencemari udara desa yang seharusnya bersih dan mengancam kesehatan pernapasan.

Lebih jauh lagi, sebagai mahasiswa yang kesehariannya menelaah, kami menyadari bahwa sisa abu pembakaran dan lindi dari tumpukan sampah ini pada akhirnya akan meresap ke dalam tanah, berpotensi mencemari ekosistem air tanah dan sumber air bersih warga di masa depan.

Melihat kondisi tersebut, kelompok kami sepakat merancang sebuah program kerja yang krusial dan berkelanjutan: pembentukan dan pembangunan fasilitas Bank Sampah.

Tentu saja, merealisasikan ide ini tidaklah mudah. Proyek ini menuntut pengorbanan ekstra, baik dari segi tenaga untuk membangun fasilitasnya, waktu, pikiran, hingga alokasi dana yang ternyata cukup besar dan menguras kantong kami.

Debat Alot di Balik Layar

Membangun fasilitas fisik Bank Sampah mungkin urusan material dan tenaga, tetapi meruntuhkan kebiasaan lama warga adalah persoalan yang jauh lebih rumit. Tantangan tersulit di lapangan adalah menentukan titik lokasi penempatan fasilitas tersebut. Warga yang sudah terbiasa dengan kepraktisan membakar sampah di pekarangan sendiri tentu membutuhkan waktu dan edukasi untuk mau memilah, berjalan kaki, dan menyetorkan sampah mereka ke Bank Sampah.
Kendala penentuan lokasi dan strategi edukasi ini bahkan sempat memantik dinamika panas di internal kelompok kami. Malam-malam evaluasi di posko sering kali dipenuhi dengan debat alot dan perbedaan pandangan.

Di bawah temaram lampu posko, dengan secarik kertas perencanaan yang penuh coretan, kami saling melempar argumen dan mempertahankan pendapat masing-masing, demi menemukan solusi serta cara pendekatan terbaik agar sistem Bank Sampah ini nantinya benar-benar berjalan dan diterima oleh warga.

Buah Manis dari Pengabdian
Pada akhirnya, semua perdebatan yang menguras emosi, peluh keringat di bawah terik matahari, dan dana yang terkuras berbuah sangat manis.

Saat fasilitas Bank Sampah itu selesai dibangun dan sistemnya mulai berjalan, ada rasa haru sekaligus kebanggaan luar biasa yang menyelimuti dada kami.

Kebanggaan itu semakin berlipat ganda ketika melihat masyarakat perlahan mulai berpartisipasi menyetorkan barang bekas mereka, serta perlahan meninggalkan tradisi membakar sampah di halaman.

Bank Sampah di Tagangser Laok kini bukan sekadar bangunan fisik.

Fasilitas tersebut telah menjelma menjadi monumen pendewasaan bagi kelompok kami, serta jejak pengabdian nyata yang kami tinggalkan untuk menjaga asri dan sejuknya Desa Tagangser Laok.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *