Oleh: Moh. Hasanuddin*
Saya termasuk generasi Z yang tumbuh dengan rokok berfilter. Sejak mengenal rokok, yang akrab di mata saya adalah produk dengan kemasan menarik, berbagai pilihan merek, dan filter di bagian ujungnya. Tinggal membuka bungkus, mengambil sebatang, lalu selesai. Praktis, tidak perlu keterampilan khusus, apalagi harus belajar menggulung tembakau seperti sedang mengikuti pelatihan kerajinan tangan.
Pada era 2007–2010, pasar rokok Indonesia memang sudah diramaikan berbagai produk kretek berfilter. Generasi saya tumbuh dengan kebiasaan tersebut. Karena itu, ketika mendengar istilah tingwe atau ngelinting dewe, saya lebih banyak mengenalnya dari cerita orang-orang terdahulu. Bagi mereka, tingwe bukan sesuatu yang asing. Sementara bagi saya, istilah itu terdengar seperti kebiasaan lama yang sesekali muncul dalam obrolan sambil menikmati kopi.
Dari cerita mereka, saya tahu bahwa dahulu menikmati rokok tidak selalu harus membeli produk jadi. Cukup menyediakan tembakau rajangan, kertas linting, dan sedikit keterampilan tangan. Tembakau diletakkan di atas kertas, kemudian digulung hingga membentuk sebatang rokok. Sederhana, tetapi saya membayangkan tidak semua orang bisa langsung mahir melakukannya.
Terus terang, saya selama ini hanya menjadi penonton cerita. Saya mengenal tingwe sebatas pengetahuan dari generasi sebelumnya, bukan dari pengalaman pribadi. Bahkan, mungkin kalau disuruh melinting sendiri saat itu, hasilnya lebih menyerupai tembakau yang sedang mencari tempat tinggal daripada sebatang rokok.
Namun, rasa penasaran terhadap tradisi tersebut akhirnya menemukan jawabannya ketika saya mengenal Djavaloka Bistro di Jalan Pasar PAO, Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan.
Tempat ini menawarkan sesuatu yang cukup berbeda. Selain menyajikan makanan dengan konsep daging asap atau smoked meat dan aneka minuman racikan, Djavaloka Bistro memiliki konsep Tobacco Experience. Di sinilah saya menemukan pengalaman baru yang sebelumnya hanya saya kenal melalui cerita orang-orang terdahulu.
Awalnya, saya mengira pengalaman tersebut hanya sebatas melihat berbagai jenis tembakau yang dipajang. Ternyata, lebih dari itu. Pengunjung dapat mengenal berbagai jenis tembakau Nusantara, mengetahui asal daerahnya, mempelajari karakteristiknya, hingga mencoba meracik tembakau sendiri.
Nah, di sinilah pengalaman saya sebagai generasi Z mulai diuji.
Selama ini, urusan rokok bagi saya cukup sederhana: pilih merek, buka bungkus, lalu nikmati. Tetapi di Djavaloka, ceritanya berbeda. Saya harus berkenalan dengan tembakau demi tembakau. Ada yang berasal dari Madura, Temanggung, Virginia, Besuki, dan berbagai daerah lainnya. Masing-masing memiliki karakter yang berbeda, baik dari aroma, tekstur, maupun kualitasnya.
Rasanya seperti sedang berkenalan dengan banyak orang dalam satu ruangan. Sama-sama tembakau, tetapi masing-masing punya identitas. Ada yang aromanya khas, ada yang karakteristiknya berbeda, dan semuanya memiliki cerita asal-usul sendiri. Ternyata, tembakau juga tidak bisa dinilai hanya dari penampilannya. Kalau hanya melihat rajangannya, mungkin saya akan kesulitan membedakan mana yang berasal dari Madura dan mana yang datang dari daerah lain.
Pengalaman paling menarik tentu ketika mencoba meracik tembakau sendiri. Saya bisa mengeksplorasi beberapa jenis tembakau dan mengenal proses pencampurannya. Di sinilah saya mulai memahami bahwa meracik tembakau bukan sekadar mengambil beberapa rajangan, mencampurnya, lalu berharap hasilnya cocok. Ada karakter bahan baku, komposisi, aroma, dan pengetahuan yang perlu dipahami.
Jujur, pengalaman ini cukup menyenangkan. Ada rasa penasaran setiap kali mencoba mengenali jenis tembakau yang berbeda. Kalau selama ini saya hanya mengenal produk rokok berdasarkan merek dan kemasannya, sekarang saya justru diajak mengenali bahan baku yang membentuk karakter produk tersebut.
Saya juga mulai memahami bahwa tradisi kretek Indonesia memiliki perjalanan yang panjang. Perpaduan tembakau dan cengkeh, misalnya, bukan sekadar campuran dua bahan. Keduanya memiliki karakter yang membentuk aroma dan cita rasa khas. Dalam industri, proses pencampuran atau blending membutuhkan pengetahuan tersendiri agar setiap bahan memiliki komposisi yang sesuai.
Dari pengalaman itu, saya semakin menyadari bahwa menjadi penikmat suatu produk tidak otomatis membuat kita memahami proses pembuatannya. Ibarat orang yang setiap hari makan nasi, belum tentu tahu bagaimana padi ditanam sampai menjadi beras. Begitu pula dengan rokok. Bisa saja kita hafal mereknya, tetapi belum tentu mengenal tembakau yang menjadi bahan bakunya.
Bagi saya, Tobacco Experience di Djavaloka Bistro menjadi ruang pertemuan antara generasi yang tumbuh dengan tradisi lama dan generasi yang lebih akrab dengan produk modern. Tingwe yang dahulu hanya saya kenal dari cerita orang-orang terdahulu kini bisa saya pelajari secara langsung melalui pengalaman yang lebih interaktif.
Lebih dari sekadar pengalaman pribadi, saya melihat konsep ini memiliki nilai edukasi yang menarik, terutama bagi generasi muda. Madura memiliki hubungan historis dan ekonomi yang kuat dengan tembakau. Namun, tidak semua anak muda memahami bagaimana tembakau ditanam, dipanen, dikeringkan, diolah, hingga dipasarkan. Melalui pengenalan semacam ini, mereka bisa mengetahui bahwa di balik sebatang rokok terdapat perjalanan panjang yang melibatkan petani, pedagang, pekerja pengolahan, dan industri.
Tentu, pengenalan tembakau perlu tetap disertai pemahaman mengenai risiko kesehatan akibat konsumsi rokok, ketergantungan nikotin, dan paparan asap rokok. Pengalaman mengenal tembakau tidak harus dimaknai sebagai ajakan untuk merokok. Ada sisi sejarah, pertanian, budaya, dan ekonomi yang juga layak dipelajari.
Pada akhirnya, kunjungan ke Djavaloka Bistro memberikan pengalaman yang berbeda bagi saya. Sebagai generasi Z yang sejak awal lebih akrab dengan rokok berfilter, saya akhirnya bisa mengenal tingwe bukan hanya dari cerita orang-orang terdahulu, melainkan melalui pengalaman langsung. Saya bisa melihat berbagai jenis tembakau, mengetahui asalnya, memahami karakter masing-masing, hingga mencoba meraciknya sendiri.
Ada satu hal yang kemudian saya sadari: ternyata dunia tembakau jauh lebih luas daripada yang selama ini saya bayangkan. Selama ini saya hanya mengenal hasil akhirnya, tetapi di Djavaloka saya diajak melihat cerita di balik bahan bakunya.
Dan yang paling berkesan, saya akhirnya punya pengalaman sendiri tentang tingwe. Jadi, kalau dahulu saya hanya bisa mendengar cerita orang-orang tua tentang bagaimana mereka melinting tembakau, sekarang setidaknya saya punya cerita untuk dibagikan. Meski soal keterampilan melinting, saya belum berani mengklaim sebagai ahlinya.
Sebab, mengenal tembakau ternyata mudah. Mengenali asal-usulnya juga menarik. Namun, memastikan hasil lintingannya rapi, itu perkara lain. Jangan sampai niatnya membuat sebatang rokok, justru tembakaunya lebih dahulu bertebaran ke mana-mana.
Itulah pengalaman baru saya di Djavaloka Bistro. Sebuah tempat yang membuat saya mengenal kembali tradisi lama melalui cara yang berbeda. Ternyata, sesuatu yang dahulu hanya menjadi cerita generasi sebelumnya masih bisa memberikan pengalaman baru bagi generasi sekarang.
*) Penulis merupakan Koordinator Komunitas Pamekasan Membaca (KOMPAK).













