Ejatoday.com — Setiap pencapaian memiliki cerita panjang di belakangnya. Begitu pula perjalanan Misbakhul Munir, pemuda asal Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, yang berhasil menuntaskan pendidikan sarjananya dengan prestasi membanggakan.
Ia resmi menyandang gelar Sarjana Hukum (S.H.) setelah dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Hukum, Universitas Annuqayah, pada Wisuda ke-XXVIII, Selasa (27/10/2026).
Dengan IPK 3,92, pencapaian tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan pendidikannya.
Terlebih, Misbakhul merupakan sarjana pertama di keluarganya. Sebuah pencapaian yang bukan hanya membawa kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi kebahagiaan bagi kedua orang tua dan keluarga yang selama ini mendukung perjuangannya.
Memulai Perjalanan dari Madrasah Al-Karomah
Perjalanan pendidikan Misbakhul tidak terlepas dari peran lembaga pendidikan yang menjadi tempatnya tumbuh dan belajar. Madrasah Al-Karomah merupakan salah satu bagian penting dalam perjalanan pembentukan karakter dan keilmuannya.
Semasa menjadi pelajar, ia tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga mulai mengenal dunia organisasi. Pada periode 2020–2022, ia dipercaya menjadi Sekretaris Umum OSIS Al-Karomah.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu pintu awal keterlibatannya dalam aktivitas kepemimpinan dan pengembangan pelajar.
Ketertarikannya terhadap dunia organisasi kemudian membawanya aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pada periode 2022–2023, ia dipercaya menjadi Ketua Umum Pimpinan Komisariat IPNU Al-Karomah.
Kepercayaan tersebut menjadi awal dari perjalanan pengkaderannya yang semakin luas. Pada periode 2023–2025, Misbakhul melanjutkan pengabdiannya sebagai Ketua Umum PAC IPNU Kecamatan Ganding.
*Mengembangkan Diri Melalui Organisasi dan Pendidikan*
Memasuki dunia perguruan tinggi, Misbakhul memilih Program Studi Hukum Ekonomi Syariah di Universitas Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Di lingkungan kampus, ia terus mengembangkan kapasitas akademik sekaligus mempertahankan keterlibatannya dalam organisasi.
Selain aktif di IPNU, ia juga pernah terlibat dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Lancaran. Pengalaman tersebut memperluas ruang belajarnya, terutama dalam bidang keorganisasian, intelektualitas, kepemimpinan, dan pengembangan kapasitas kader.
Pada periode 2024–2026, ia mendapatkan amanah sebagai Koordinator Kaderisasi PC IPNU Kabupaten Sumenep. Selanjutnya, pada kepengurusan 2026–2028, ia dipercaya mengemban posisi Wakil Ketua II Bidang Kaderisasi PC IPNU Kabupaten Sumenep.
Di luar aktivitas tersebut, Misbakhul juga aktif sebagai Sekretaris PIK-R Kecamatan Ganding. Berbagai pengalaman organisasi itu menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya sebagai pemuda yang berupaya menggabungkan kapasitas intelektual, kepemimpinan, dan kepedulian sosial.
*Memperkuat Kompetensi Hukum Melalui Pendidikan Paralegal*
Tidak berhenti pada pendidikan formal di perguruan tinggi, Misbakhul juga berupaya memperluas pengetahuan dan keterampilan praktis di bidang hukum melalui pendidikan profesi paralegal.
Pada 22–23 Mei 2026, ia berhasil mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Paralegal yang diselenggarakan oleh LBH Ahmad Madani Putera dan rekan-rekan. Kegiatan tersebut berlangsung di Laboratorium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Wiraraja, Sumenep.
Keikutsertaannya dalam pendidikan tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan kompetensi di bidang bantuan hukum. Setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan tersebut, ia memperoleh kualifikasi Certified Paralegal of Legal Aid (C.P.L.A.) yang disematkan pada namanya.
Melalui pendidikan paralegal, Misbakhul memperluas pemahamannya mengenai konsultasi dan informasi hukum, pendampingan masyarakat, serta pentingnya akses terhadap keadilan. Pengalaman ini sekaligus menjadi bekal untuk mengembangkan kiprah di bidang hukum secara lebih praktis.
Baginya, ilmu hukum tidak cukup hanya dipahami melalui teori dan bangku perkuliahan. Seorang yang belajar hukum juga perlu memahami persoalan yang dihadapi masyarakat serta memiliki kepedulian untuk membantu memberikan informasi dan akses terhadap layanan hukum.
*Menempuh Pendidikan Sarjana Tanpa Skripsi*
Salah satu bagian menarik dalam perjalanan akademiknya adalah keberhasilan menyelesaikan pendidikan sarjana melalui jalur penulisan artikel ilmiah tanpa menyusun skripsi.
Misbakhul mengangkat penelitian berjudul “Praktik Mark Up Harga oleh Kurir J&T Express Drop Point Batuan pada Sistem Pembayaran Cash on Delivery dalam Jual Beli Online Perspektif Hukum Ekonomi Syari’ah.”
Penelitian tersebut membahas praktik penambahan harga oleh oknum kurir dalam transaksi pembayaran COD serta menganalisisnya berdasarkan perspektif hukum ekonomi syariah.
Artikel ilmiahnya diterima untuk dipublikasikan dalam Nusantara: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, Volume 13 Nomor 2 Tahun 2026. Karya tersebut menjadi bagian penting dari penyelesaian studi akademiknya.
Jalur penyelesaian studi melalui artikel ilmiah tidak membuatnya mengabaikan proses akademik. Sebaliknya, ia tetap harus menjalani proses penelitian, penulisan, dan penelaahan ilmiah sesuai ketentuan yang berlaku.
Perjalanan tersebut akhirnya mengantarkannya meraih IPK 3,92 sekaligus predikat Wisudawan Terbaik Program Studi Hukum Ekonomi Syariah pada Wisuda XXVIII Universitas Annuqayah.
*Sarjana Pertama Keluarga dan Kebanggaan Orang Tua*
Di balik pencapaian akademiknya, terdapat cerita yang lebih personal. Misbakhul merupakan anak pertama sekaligus sarjana pertama dalam keluarganya.
Bagi dirinya, keberhasilan tersebut bukan sekadar tentang gelar Sarjana Hukum atau penghargaan sebagai wisudawan terbaik. Ada kebahagiaan tersendiri ketika akhirnya dapat menyaksikan kedua orang tuanya menjadi bagian dari momen yang selama ini diperjuangkan bersama.
“Pencapaian ini bukan semata-mata keberhasilan saya sendiri. Ada doa kedua orang tua, jasa para guru dan kiai, serta dukungan banyak pihak yang selama ini menguatkan perjalanan saya. Saya sangat bersyukur karena akhirnya bisa sampai pada titik ini dan mendengar nama kedua orang tua bergema di hari wisuda,” ungkapnya.
Sebagai bentuk rasa syukur, ia juga menggelar tasyakuran kelulusan bersama kedua orang tua, keluarga, para guru, kiai, dan masyarakat sekitar. Momen tersebut menjadi ruang untuk berbagi kebahagiaan sekaligus menyampaikan terima kasih kepada orang-orang yang telah menjadi bagian dari perjalanannya.
Bagi Misbakhul, Gelar Sarjana Bukan Garis Akhir
Kini, setelah resmi menyandang gelar Sarjana Hukum dan memiliki kualifikasi profesi paralegal, Misbakhul tidak ingin berhenti pada pencapaian akademik semata.
Ia berharap ilmu dan keterampilan yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk mengembangkan karier di bidang hukum dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.
Pengalaman sebagai aktivis pelajar, pengurus organisasi, mahasiswa hukum, serta peserta pendidikan paralegal menjadi modal awal untuk melanjutkan perjalanan tersebut.
Baginya, organisasi memberikan ruang untuk belajar tentang kehidupan sosial, pendidikan memberikan landasan keilmuan, sedangkan pendidikan paralegal memperluas keterampilan praktis dalam memahami persoalan hukum masyarakat.
Perjalanan Misbakhul Munir menjadi gambaran bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari satu jalan.
Ada proses panjang, kesempatan yang dimanfaatkan, tanggung jawab yang dijalankan, serta doa orang-orang yang tidak pernah berhenti mengiringi.
Dari bangku Madrasah Al-Karomah, ruang pengaderan IPNU, pendidikan paralegal, hingga podium Wisuda Universitas Annuqayah, perjalanan Misbakhul Munir bukan sekadar kisah tentang seorang mahasiswa yang berhasil menjadi sarjana.
Ini adalah cerita tentang seorang anak yang ingin membanggakan orang tuanya, seorang kader yang terus belajar, dan seorang pemuda yang sedang mempersiapkan diri untuk memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Sebab, baginya, menjadi sarjana bukanlah akhir dari perjalanan. Justru di situlah tanggung jawab sesungguhnya dimulai.













