Ejatoday.com — Menjelang pelaksanaan puncak ibadah haji atau Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), peran Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) dinilai sangat penting dalam menopang jamaah haji reguler, khususnya jamaah lanjut usia dan jamaah yang masih awam terhadap tata cara pelaksanaan haji di tanah suci.
Hal itu disampaikan Taufadi dalam catatan perjalanan hajinya selama berada di Makkah bersama Kloter SUB-74 Embarkasi Surabaya.
Menurutnya, mayoritas jamaah yang tergabung dalam KBIHU Al-Mabrur masih tergolong awam, baik dari sisi pemahaman ibadah maupun kondisi geografis dan budaya di Arab Saudi. Namun tidak sedikit ada pula jamaah yang memang mandiri dalam melaksanakan rangkaian ibadah haji.
“Bagi warga yang awam, di benak mereka hanyalah ingin menunaikan ibadah haji, melaksanakan rukun Islam kelima, walaupun harus menunggu sampai 14 tahun,” tulis Taufadi.
Ia menilai keberadaan KBIHU tidak hanya sebatas membimbing manasik, melainkan menjadi tempat bergantung jamaah sejak proses pendaftaran hingga menjelang Armuzna.
“Eksistensi KBIHU membantu dalam membimbing, melayani dan melindungi jamaah haji,” katanya.

Menurut Taufadi, sebagian besar jamaah sangat bergantung kepada KBIHU, mulai dari pengurusan administrasi, pelunasan biaya haji, tes kesehatan, manasik, hingga pendampingan selama berada di tanah suci.
Bahkan, menjelang Armuzna, pembimbing KBIHU Al-Mabrur Alwi Beiq, hampir setiap hari menggelar rapat bersama karom, karu, serta petugas kloter untuk menyusun strategi pelayanan jamaah.
“Setiap hari beliau memanggil karom dan karu untuk berdiskusi bersama petugas kloter terkait persiapan dan menyusun strategi terbaik demi kenyamanan dan keamanan jamaah selama pelaksanaan Armuzna,” ungkapnya.
Dalam pembekalan itu, jamaah diberikan pemahaman rinci mengenai tata cara pelaksanaan haji, mulai dari niat haji, proses murur di Muzdalifah, strategi lempar jumrah, hingga tawaf dan sa’i ifadah.
Taufadi mengaku, tanpa bimbingan intensif dari KBIHU, banyak jamaah reguler kemungkinan akan kesulitan menghadapi situasi di lapangan saat puncak haji berlangsung.
“Jamaah haji yang tidak bergabung dengan KBIHU atau berangkat sendiri sering merasa seperti tidak punya induk. Mereka kebingungan, tidak ada yang memandu, dan tidak tahu harus bagaimana ketika tiba di Makkah,” tulisnya.
Di Tengah Persiapan Jelang Armuzna
Di tengah persiapan Armuzna, keseharian jamaah di hotel juga berlangsung sederhana. Banyak jamaah memilih mengurangi aktivitas di luar hotel untuk menjaga stamina. Sebagian mengisi waktu dengan memperbanyak ibadah, sementara sebagian lain berkumpul santai bersama sesama jamaah.
Taufadi juga menyinggung anekdot soal konsumsi jamaah yang disebut sebagian jamaah sebagai jatah “MBG”. Selama di Makkah, jamaah mendapatkan jatah makan tiga kali sehari dari PPIH Arab Saudi dengan menu bercita rasa Indonesia.
“Jatah makan yang diberikan kepada jamaah bercita rasa ala Indonesia dengan menu yang relatif stagnan setiap hari,” tulisnya.
Meski demikian, menurutnya mayoritas jamaah tetap bersyukur karena distribusi konsumsi berlangsung tertib dan tidak pernah terlambat. Bahkan banyak jamaah membawa lauk tambahan sendiri dari tanah air, seperti abon, sambal, ikan teri, hingga beras jagung lengkap dengan rice cooker.
Selain menyoroti peran KBIHU, Taufadi juga mengapresiasi kerja keras petugas kloter SUB-74 yang dinilainya sangat sigap melayani jamaah.
Ia menceritakan bagaimana kakloter SUB-74, Ibu Hajar, harus bolak-balik berjalan kaki menuju kantor sektor dalam cuaca panas ekstrem demi mengurus kebutuhan jamaah.
“Walaupun perempuan, dia tegas dan humble, sigap melayani berbagai persoalan jamaah,” tulisnya.
Apresiasi juga diberikan kepada dokter dan perawat kloter yang dinilai tanpa lelah melayani jamaah sakit, termasuk naik turun lift hotel yang padat untuk memeriksa jamaah.
Tak hanya itu, dua petugas TPHD disebut ikut membaur bersama jamaah hingga membantu mendorong kursi roda saat pelaksanaan umrah wajib.
Namun di sisi lain, Taufadi menyayangkan minimnya interaksi antara petinggi PPIH sektor 4 dengan jamaah.
“Para petinggi sektor tidak ada yang menyambangi apalagi menyapa kami,” tulisnya.
Meski demikian, ia tetap mengapresiasi sejumlah layanan sektor, seperti visitasi lansia dan layanan safari wukuf bagi jamaah yang memenuhi syarat.
Menjelang keberangkatan menuju Arafah, jamaah SUB-74 kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibadah, dzikir, dan mengikuti pembekalan Armuzna sambil menjaga kondisi fisik.
Bagi Taufadi, Armuzna bukan hanya ujian fisik, tetapi juga ujian kesiapan mental dan spiritual seluruh jamaah haji reguler.













