Kolom  

HPN 2026: Pers dan Sepak Bola

Semua Punya Peran

Hasibuddin

Hari Pers Nasional (HPN) 2026 datang dengan tema yang terdengar seperti slogan di spanduk stadion: “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat.”

Kalimatnya singkat, tapi kalau dibongkar isinya berat. Pers sehat itu bukan soal redaksi punya AC, bukan soal media punya studio podcast, apalagi soal wartawan punya rompi bertuliskan “PRESS” lalu merasa kebal kritik. Pers sehat itu kerja jurnalistik yang benar, redaksi yang tidak gampang dibeli, dan keberanian untuk tetap berdiri ketika yang lain memilih diam.

Kalau pers kita adalah sebuah tim sepak bola, tema HPN 2026 ini seperti target pelatih, bukan hanya menang sekali dua kali, tapi membangun tim yang kuat sepanjang musim. Karena sepak bola bukan soal satu gol viral. Pers juga bukan soal satu berita meledak.

Dan di sinilah analogi sepak bola menjadi masuk akal. Sebab pers itu permainan kolektif. Tidak ada tim juara yang cuma punya striker. Tidak ada media yang kredibel kalau hanya mengandalkan wartawan lapangan. Sebab dalam sepak bola, satu blunder bisa jadi gol bunuh diri. Dalam pers, satu berita salah bisa jadi bencana nasional.

Striker: Wartawan Lapangan, Pemburu Gol di Tengah Tekanan

Striker dalam dunia pers adalah wartawan lapangan. Mereka yang mengejar fakta, mengejar kutipan, mengejar dokumen, mengejar narasumber yang sering “rapat mendadak”. Mereka adalah pemain yang paling sering dihajar. Dari mulai dihajar deadline, dihajar buzzer, dihajar omelan narasumber, dihajar realitas liputan jauh, hingga dihajar uang jalan yang tipis.

Striker pers juga punya tipe. Pertama, striker poacher. Wartawan yang jeli. Ia bisa menemukan berita besar dari celah kecil. Ia tidak banyak gaya, tapi tahu kapan harus menusuk. Ia mirip Inzaghi, Gerd Müller, atau Lewandowski. Tidak selalu tampak dominan, tapi tahu cara mencetak gol di momen paling menentukan.

Kedua, striker target man. Tipe wartawan tahan banting. Ia bisa liputan kasus berat, isu sensitif, investigasi, dan tetap berdiri meski ditekan. Dalam sepak bola, tipenya seperti Ronaldo Nazário era “botak”—kuat, berani duel, dan tetap bisa mencetak gol meski dijaga ketat.

Ketiga, striker gaya dulu. Ini tipe wartawan yang paling ramai selebrasi tapi minim gol: liputan banyak, unggahan banyak, tapi berita ujungnya copy-paste rilis. Dalam dunia pers, tipe ini sering “dipuji” karena produktif, padahal produktif bukan berarti berkualitas.

Dalam sepak bola, karakternya mirip Mario Balotelli, sosok penuh sensasi, penuh gaya, tapi kontribusinya sering tidak sebanding dengan hebohnya.

Gelandang: Redaktur, Pengatur Tempo dan Akal Sehat Redaksi

Gelandang ibarat redaktur. Kalau striker adalah kaki, gelandang adalah otak. Mereka menentukan arah permainan, apakah media mau bermain menyerang dengan liputan mendalam, atau hanya bermain aman dengan berita seremonial.

Gelandang dalam dunia pers juga punya tipe. Ada playmaker (No.10), tipe redaktur yang bisa mengubah laporan biasa jadi berita yang bernyawa, membaca angle, paham konteks, dan tahu apa yang penting bagi publik. Dalam sepak bola tipenya seperti Zidane, Pirlo, Riquelme, De Bruyne, Xavi, atau Iniesta.

Ada pula box-to-box, tipe redaktur pekerja keras yang ikut turun memverifikasi, mengamankan data, sekaligus menghidupkan kualitas naskah dari awal sampai akhir. Ini seperti Gerrard, Lampard, Yaya Touré, atau Bellingham.

Lalu ada gelandang bertahan (anchor), tipe penjaga akal sehat redaksi yang memastikan cover both sides, menahan propaganda, dan mencegah blunder fatal. Perannya mirip Makélélé, Busquets, Casemiro, Kanté, atau Rodri.

Dan terakhir, ada gelandang aman, tipe yang cuma mengoper ke belakang, takut ambil risiko, takut menyentuh isu sensitif karena khawatir berhadapan dengan kekuasaan atau kehilangan iklan.

Dalam sepak bola, tipe ini sering muncul sebagai pemain yang “rajin, tapi tidak menggigit”. Ia main rapi, tapi tidak mengubah keadaan. Padahal pers sehat itu butuh gelandang yang berani ambil risiko. Tanpa itu striker akan kelaparan peluang, dan publik akan kelaparan informasi.

Bek: Editor, Penjaga Akurasi dan Benteng dari Blunder

Saya mengumpamakan Bek dalam dunia pers adalah editor bahasa, editor data, dan sistem verifikasi yang menjaga agar berita tidak bocor, tidak jebol, dan tidak berubah jadi peluru nyasar. Mereka ini seperti bek tengah “pembersih” dalam sepak bola. Tegas, disiplin, dan siap menyapu bahaya sebelum jadi gol. Tipenya bisa disamakan dengan Maldini, Nesta, Baresi, Vidić, atau John Terry.

Ada juga bek sayap modern, yakni editor yang bukan hanya mengoreksi, tapi ikut menyusun ulang agar tulisan lebih mudah dipahami dan alurnya enak dibaca. Perannya mirip Dani Alves, Marcelo, Jordi Alba, Trent Alexander-Arnold, atau Robertson.

Pers sehat tidak bisa tanpa bek, karena media tanpa editor itu seperti tim tanpa pertahanan: cepat atau lambat, kebobolan.

Kiper: Fact Checker, Etika, dan Keberanian Menolak Pesanan

Sementara itu, kiper dalam dunia pers adalah fact checker, legal, dan benteng terakhir yang menyelamatkan redaksi dari gol bunuh diri seperti judul menyesatkan, data palsu, kutipan dipelintir, atau berita titipan yang dibungkus seolah netral.

Di sinilah tema HPN 2026 terasa relevan: pers sehat butuh integritas, dan integritas itu kerja kiper. Dalam sepak bola, peran ini seperti Buffon, Casillas, Neuer, Petr Čech, Van der Sar, atau Alisson. Jarang terlihat, tapi kalau lengah sedikit saja, satu bola bisa merusak seluruh pertandingan.

Masalahnya, banyak redaksi hari ini ingin punya banyak striker, tapi lupa menyiapkan penjaga gawang.

Pelatih: Pemred, Pemilik Media, dan Arah Permainan

Pelatih dalam dunia pers diemban seorang pemimpin redaksi. Dia yang menentukan formasi, memilih strategi, dan memutuskan apakah redaksi mau main menyerang dengan liputan mendalam atau main aman dengan berita seremonial.

Tapi di Indonesia, sering kali pelatih yang sesungguhnya bukan pemred, melainkan pemilik modal, sponsor, atau “orang belakang” yang ikut mengatur siapa boleh diliput, siapa tidak boleh disentuh. Di sepak bola, kita kenal tipe pelatih visioner yang membangun sistem jangka panjang seperti Pep Guardiola atau Jürgen Klopp, tipe pragmatis yang fokus hasil cepat seperti José Mourinho, tipe taktisi defensif yang mengutamakan disiplin seperti Diego Simeone, sampai tipe pelatih “instan” yang hidup dari ganti-ganti klub, mengejar aman jabatan.

Dalam pers, tipe pemred juga begitu, ada yang membangun ekosistem redaksi sehat, ada yang hanya menjaga hubungan baik dengan sponsor, dan ada yang sekadar menunggu arahan pemilik.

Bangsa Kuat: Ketika Pers Tidak Mudah Dibeli

Dan di sinilah tema HPN 2026 terasa menohok: “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat.” Pers tidak mungkin sehat kalau ekonomi media sakit. Media yang hidup dari amplop, iklan terselubung, dan proyek pesanan, pada dasarnya sedang bermain di liga yang sudah diatur skornya.

Ekonomi berdaulat dalam pers artinya: model bisnis jelas, pendapatan tidak bergantung pada satu pihak, redaksi tidak dijadikan alat transaksi, dan wartawan tidak dijadikan sapi perah. Karena ketika ekonomi media rapuh, berita berubah jadi barang dagangan. Dan kalau berita sudah jadi barang dagangan, bangsa kehilangan salah satu pilar penjaganya.

Bangsa kuat bukan karena spanduk atau seremoni, tapi karena kontrol sosial berjalan. Dan kontrol sosial itu lahir dari pers yang sehat: striker tajam, gelandang kreatif, bek disiplin, kiper kuat, pelatih punya strategi, dan yang paling penting semua main untuk tim, bukan untuk bandar.

Selamat Hari Pers Nasional 2026. Semoga pers Indonesia benar-benar sehat—bukan sehat di panggung, tapi sehat di lapangan: tidak mudah jatuh, tidak mudah takut, dan tidak mudah dibeli.

 

*Penulis adalah Jurnalis yang juga Fans Barcelona

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *