Ejatoday.com – Ikatan Mahasiswa (IMI) menggelar pertemuan dengan Ketua Pelaksana Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 di Cafe R-Box, Senin (2/11/2026), pukul 13.30 WIB.
Pertemuan tersebut membahas keterlambatan pendistribusian kaos kepada peserta PKKMB 2026 yang sebelumnya menjadi persoalan dan mendapat perhatian mahasiswa.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Pelaksana PKKMB 2026, Rusdi, menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf kepada IMI dan seluruh mahasiswa atas keterlambatan pembagian kaos peserta PKKMB.
Ia juga menjelaskan kronologi terjadinya persoalan yang menurutnya disebabkan oleh adanya miskomunikasi antara dirinya selaku ketua pelaksana dengan liaison officer (LO) atau pendamping kelompok peserta PKKMB.
“Permasalahan ini sebenarnya terjadi karena adanya miskomunikasi antara LO atau pendamping kelompok PKKMB dengan saya selaku ketua panitia. Saya mendapatkan informasi bahwa kaos sudah tersedia, termasuk untuk memenuhi kekurangannya. Namun, informasi tersebut tidak diketahui dan tidak terkonfirmasi dengan baik kepada para LO,” jelas Rusdi dalam pertemuan tersebut.
Menanggapi klarifikasi itu, Koordinator Lapangan (Korlap) I IMI, Muhammad Hanafi, menyatakan menerima permohonan maaf yang disampaikan oleh Ketua Pelaksana PKKMB. Menurutnya, persoalan tersebut merupakan kesalahan komunikasi, bukan unsur kesengajaan. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi bagi seluruh panitia agar tidak terulang dalam pelaksanaan kegiatan serupa.
Lebih lanjut, Ketua Pelaksana PKKMB mengungkapkan bahwa sejumlah kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan tidak terlepas dari proses pembentukan kepanitiaan yang dinilai terlalu mendadak. Persiapan yang berlangsung dalam waktu relatif singkat sejak pembentukan panitia hingga pelaksanaan kegiatan dinilai turut memengaruhi kesiapan dan maksimalnya pelaksanaan PKKMB 2026.
Sementara itu, Herdi, anggota IMI sekaligus anggota panitia PKKMB 2026, menyayangkan apabila kegiatan sebesar PKKMB tidak mendapatkan persiapan yang matang dari pimpinan kampus.
Menurutnya, pembentukan kepanitiaan yang terlalu cepat berdampak terhadap kesiapan panitia dan berpotensi mengurangi kualitas pelaksanaan kegiatan.
Ia menilai bahwa PKKMB merupakan agenda penting bagi mahasiswa baru sehingga membutuhkan perencanaan, koordinasi, dan persiapan yang terstruktur.
Oleh karena itu, evaluasi tidak seharusnya hanya diarahkan kepada teknis kepanitiaan, tetapi juga perlu menjadi perhatian pimpinan kampus dalam proses perencanaan kegiatan.
Pertemuan antara IMI dan Ketua Pelaksana PKKMB 2026 tersebut diharapkan menjadi ruang penyelesaian persoalan sekaligus momentum evaluasi bersama.
Permasalahan keterlambatan pendistribusian kaos hendaknya menjadi pelajaran penting bahwa komunikasi, koordinasi, dan kesiapan kepanitiaan merupakan bagian mendasar dalam menyukseskan kegiatan akademik di lingkungan kampus.













