Kolom  

MADURA DALAM PELUKAN NÈMOR: ANTARA DAHAGA DAN RIUH CERITA TETANGGA

Oleh: Moh. Royhan Iqbal

Ada yang berubah dari wajah Madura ketika musim kemarau tiba. Tanah perlahan kehilangan kelembapannya, rumput enggan menghijau, dan pepohonan seolah berhenti menawarkan kesejukan. Di sejumlah ladang, petani masih mengayunkan cangkul, meskipun tanah yang mereka garap tidak selalu menjanjikan hasil panen.

Masyarakat Madura mengenal musim kemarau dengan istilah nèmor. Ia bukan sekadar pergantian musim, melainkan bagian dari pengalaman ekologis yang telah lama dikenal masyarakat setempat. Namun, di balik keakraban masyarakat dengan musim tersebut, terdapat persoalan yang tidak bisa dianggap biasa: keterbatasan air bersih, kerentanan pertanian, dan beban kehidupan masyarakat pedesaan.

Pada 2026, persoalan ini kembali memperlihatkan wajahnya. Prediksi BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur menunjukkan bahwa 56 dari 74 Zona Musim di Jawa Timur atau sekitar 75,7 persen diperkirakan mengalami curah hujan bawah normal selama musim kemarau. Sejumlah wilayah di Madura termasuk dalam zona yang dipetakan tersebut.

Dampaknya tidak berhenti pada prakiraan cuaca. BPBD Bangkalan mencatat 57 desa terdampak kekeringan pada Oktober 2026. Di Sampang, jumlah desa terdampak meningkat menjadi 81 desa dari sebelumnya 78 desa. Sementara itu, BPBD Jawa Timur mencatat 18.631 jiwa terdampak di Pamekasan pada September 2026.

Di ujung timur Madura, Kabupaten Sumenep juga menghadapi persoalan serupa. Data yang disampaikan Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 14 Oktober 2026 mencatat kekeringan berdampak pada 70 desa dengan 271.017 jiwa. Salah satu potret nyata terlihat di Desa Langsar, Kecamatan Saronggi. Warga telah mengalami kesulitan air bersih selama sekitar tiga bulan.

Seorang warga bahkan harus mengeluarkan sekitar Rp80.000 untuk membeli 2,5 meter kubik air menggunakan kendaraan pikap. Air tersebut digunakan untuk minum, memasak, mandi, hingga memenuhi kebutuhan ternak.

Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat keluarga yang menunggu kiriman air, petani yang mencemaskan ladangnya, dan masyarakat yang harus mengeluarkan biaya tambahan demi memenuhi kebutuhan paling mendasar.

Ketika Ladang Kehilangan Harapan

Bagi masyarakat Madura, tanah bukan hanya tempat berpijak. Ia juga menjadi ruang penghidupan. Sebagian masyarakat menggantungkan kehidupannya pada pertanian, peternakan, dan aktivitas ekonomi yang sangat dipengaruhi kondisi alam.

Ketika kemarau berlangsung panjang, persoalan air dapat menjalar ke berbagai sektor kehidupan. Lahan pertanian yang kekurangan air berisiko mengalami penurunan produktivitas. Peternak pun harus memikirkan ketersediaan air bagi hewan peliharaan mereka.

Dalam keadaan demikian, petani kecil menjadi salah satu kelompok yang rentan. Mereka tidak selalu memiliki sumber daya yang cukup untuk menghadapi perubahan kondisi lingkungan.

Bayangkan seorang petani renta yang berdiri di tengah ladangnya. Cangkul masih diayunkan, tanah tetap dibelah, tetapi harapan tak kunjung tumbuh di sana. Ia berhadapan dengan keadaan yang tidak selalu bisa dikendalikan oleh tenaga dan kerja kerasnya.

Di sinilah kekeringan menjadi lebih dari sekadar persoalan cuaca. Ia menyentuh persoalan ekonomi, ketahanan pangan, dan keberlangsungan hidup masyarakat.

Air yang Menjadi Barang Perjuangan

Air merupakan kebutuhan dasar yang seharusnya dapat diakses setiap orang. Namun, bagi sebagian masyarakat di Madura, kemarau membuat kebutuhan tersebut tidak lagi mudah dipenuhi.

Ketika sumur mengering dan sumber air menyusut, masyarakat harus mencari alternatif. Sebagian membeli air, sebagian menunggu bantuan distribusi, sementara yang lain bergantung pada persediaan yang masih tersisa.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kekeringan tidak cukup ditangani dengan distribusi air bersih semata. Bantuan tangki air memang penting untuk menjawab kebutuhan darurat, tetapi masyarakat juga membutuhkan solusi yang lebih berkelanjutan.

Pembangunan sumber air, sumur bor yang mempertimbangkan kondisi hidrogeologi, pengelolaan penampungan air hujan, serta perbaikan infrastruktur distribusi perlu menjadi perhatian.

Pemerintah daerah juga perlu memetakan wilayah rawan kekeringan secara lebih terperinci, terutama desa-desa yang setiap tahun menghadapi persoalan serupa.

Sebab, masyarakat tidak semestinya terus-menerus menunggu bantuan setiap kali musim kemarau datang. Mereka berhak memperoleh sistem penyediaan air yang lebih pasti.

Ketika Ghibah Lebih Subur daripada Kepedulian

Namun, ada persoalan lain yang tidak kalah menarik untuk direnungkan.

Di tengah tanah yang kehilangan kesuburan, sebagian manusia justru sibuk menyuburkan percakapan tentang kesalahan sesamanya. Gunjingan, prasangka, dan kebiasaan menghakimi seolah tidak mengenal musim.

Satu kesalahan dapat menjadi bahan pembicaraan panjang, sementara seribu kebaikan berlalu tanpa penghargaan.

Kita mungkin terlalu mudah membicarakan kekurangan orang lain, tetapi sering kali kesulitan melihat penderitaan yang berada tidak jauh dari kehidupan sendiri.

Ironi ini menjadi semakin menarik ketika dihadapkan pada nilai kebersamaan yang selama ini dikenal dalam kehidupan masyarakat Madura. Persaudaraan, solidaritas, dan semangat saling membantu semestinya tidak berhenti sebagai identitas budaya. Nilai-nilai tersebut harus hadir dalam tindakan nyata.

Ketika tetangga mengalami kesulitan air, kepedulian seharusnya lebih dahulu datang daripada gunjingan. Ketika petani kehilangan harapan atas ladangnya, perhatian seharusnya lebih besar daripada kebiasaan mencari kesalahan.

Toples Khong Guan dan Wajah Manusia

Ada satu fenomena sederhana yang mungkin pernah kita jumpai di rumah: toples bertuliskan Khong Guan, tetapi ketika dibuka, isinya justru rengginang.

Kita mungkin tertawa melihatnya. Namun, di balik kelucuan itu tersimpan sebuah perumpamaan tentang penampilan dan kenyataan.

Tidak semua yang terlihat mewah memiliki isi yang istimewa. Tidak semua yang tampak baik benar-benar mencerminkan kebaikan.

Begitu pula manusia. Kata-kata yang terdengar santun belum tentu lahir dari hati yang tulus. Cerita yang disampaikan dengan penuh keyakinan belum tentu bebas dari prasangka dan kepentingan.

Kita sering kali terlalu cepat menilai, tetapi lambat memahami. Terlalu mudah menyebarkan cerita, tetapi enggan memeriksa kebenarannya.

Barangkali, inilah salah satu bentuk kekeringan yang tidak pernah masuk dalam laporan kebencanaan: kekeringan empati.

Menyuburkan Kembali Madura

Musim nèmor pada akhirnya memberikan pelajaran yang lebih luas daripada sekadar pergantian cuaca. Ia mengingatkan bahwa kehidupan masyarakat sangat bergantung pada keseimbangan alam dan kesungguhan manusia dalam menjaganya.

Madura tidak boleh terus-menerus dipandang sebagai wilayah yang hanya mampu menerima keadaan. Potensi sumber daya, pengetahuan lokal, partisipasi masyarakat, dan keterlibatan perguruan tinggi perlu menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan menghadapi kekeringan.

Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa penanganan kekeringan tidak berhenti pada bantuan sesaat. Sementara itu, masyarakat, akademisi, organisasi kepemudaan, dan berbagai elemen sosial dapat mengambil peran dalam mendorong pengelolaan lingkungan dan sumber daya air yang lebih bertanggung jawab.

Sebab, menghadapi kekeringan membutuhkan kerja bersama, bukan sekadar saling menyalahkan.

Di bawah langit nèmor, tanah mungkin kehilangan air. Petani mungkin kehilangan harapan atas ladangnya. Namun, jangan sampai manusia kehilangan kepekaan terhadap penderitaan sesamanya.

Sebab, yang paling mengkhawatirkan bukan hanya tanah yang retak karena kemarau, melainkan hati manusia yang kehilangan kemampuan untuk merasakan kesulitan orang lain.

Dan kekeringan semacam itu, sayangnya, tidak selalu menunggu musim kemarau untuk datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *