Ejatoday.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Universitas PGRI Sumenep menggelar kegiatan nonton bersama (nobar) film Pesta Babi pada Kamis malam sekitar pukul 19.30 WIB.
Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi dan refleksi terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di Kabupaten Sumenep.
Acara yang berlangsung di lingkungan kampus itu menghadirkan sejumlah pemantik diskusi, di antaranya Dandim Citra Kabupaten Sumenep, pengurus Badan Koordinasi (Badko) HMI Jawa Timur M. Sohir, serta Kepala Bidang Pengembangan Anggota (PA) HMI Cabang Sumenep, Moh. Muhlis. Kegiatan juga diikuti seluruh pengurus dan kader HMI Komisariat Universitas PGRI Sumenep.
Dalam diskusi usai pemutaran film, peserta membahas berbagai persoalan sosial yang dinilai relevan dengan kondisi masyarakat Sumenep.
Film Pesta Babi dijadikan media refleksi untuk memahami realitas sosial, kritik terhadap kondisi masyarakat, serta pentingnya peran mahasiswa dalam menyikapi berbagai persoalan daerah.
Moh. Muhlis mengatakan mahasiswa tidak hanya dituntut aktif secara akademik, tetapi juga harus memiliki kepekaan terhadap realitas sosial di tengah masyarakat.
“Mahasiswa harus mampu membaca kondisi sosial masyarakat dan hadir memberikan solusi. Perusakan alam juga bukan hanya ditolak masyarakat, tetapi dilarang oleh berbagai ajaran agama, baik Islam, Kristen, maupun agama lainnya,” ujarnya.
Sementara itu, M. Sohir menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda menonton film bersama, melainkan sarana meningkatkan daya kritis kader HMI dalam menganalisis fenomena sosial di lingkungan sekitar, khususnya di Kabupaten Sumenep.
“Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama agar kader HMI lebih peka terhadap persoalan sosial dan berani menyampaikan pandangan secara kritis,” katanya.
Kegiatan berlangsung antusias dan interaktif. Para peserta aktif menyampaikan pandangan serta analisis terkait pesan yang terkandung dalam film maupun kaitannya dengan fakta sosial di Kabupaten Sumenep.
Di sisi lain, panitia kegiatan menyampaikan bahwa tujuan mengundang Dandim Kabupaten Sumenep adalah untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa pihak TNI hadir bersama masyarakat dalam berbagai kondisi.
Langkah tersebut juga dimaksudkan sebagai bentuk pembuktian bahwa sikap Dandim Kabupaten Sumenep berbeda dengan Dandim di Ternate, Maluku Utara, yang sebelumnya membubarkan kegiatan nonton bersama film Pesta Babi karena dianggap mengandung unsur provokasi dan berpotensi menimbulkan stigma di tengah masyarakat.
Namun demikian, panitia menilai harapan tersebut belum sepenuhnya tercapai. Mereka menilai sikap Dandim Kabupaten Sumenep tidak jauh berbeda dengan sejumlah pihak di luar daerah yang dinilai mengambil jarak terhadap kegiatan diskusi dan pemutaran film yang bersifat edukatif serta reflektif terhadap realitas sosial masyarakat.













