Berita  

‘Shongai’ Barokah, Ekonomi Islam, dan Nilai Kejujuran

Ejatoday.com – Kajian rutin di Majelis Shongai Barokah kembali digelar dengan suasana khusyuk dan penuh antusiasme jamaah.

Pada kesempatan ini, tema yang diangkat adalah “Strategi Rasulullah SAW membangun ekonomi Islam yang berlandaskan kejujuran, profesionalitas, serta keseimbangan dan harmoni sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Sejak awal kegiatan, jamaah tampak memadati lokasi majelis. Acara dibuka dengan lantunan sholawat yang menambah suasana menjadi lebih teduh dan penuh kekhidmatan, sebelum dilanjutkan ke sesi kajian utama yang membahas aspek ekonomi Islam secara lebih mendalam dan kontekstual.

IPTU Nur Fajri Alim selaku tuan rumah menjelaskan, kajian seperti ini memiliki peran penting tidak hanya dalam memperkuat aspek spiritual, tetapi juga dalam membangun kesadaran sosial dan ekonomi masyarakat.

“Kegiatan seperti ini sangat positif. Tidak hanya memperkuat keimanan, tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bagaimana nilai-nilai ekonomi Islam bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam usaha kecil maupun aktivitas ekonomi yang lebih luas,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa nilai-nilai yang disampaikan dalam kajian ini sejalan dengan upaya membangun masyarakat yang lebih tertib, jujur, dan saling menghargai dalam setiap aktivitas muamalah.

Memasuki sesi inti, tausiyah disampaikan oleh Kiai Maimun Saidi yang mengulas secara mendalam konsep ekonomi Islam dalam perspektif Rasulullah SAW. Ia menekankan bahwa sistem ekonomi dalam Islam tidak hanya berorientasi pada keuntungan materi, tetapi juga pada nilai moral, etika, serta keberkahan dalam setiap transaksi.

Menurutnya, Rasulullah SAW telah memberikan teladan nyata sejak sebelum masa kenabian dalam praktik perdagangan yang jujur, amanah, dan profesional. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun sistem ekonomi yang sehat dan berkeadilan.

“Ekonomi Islam tidak hanya soal mencari keuntungan, tetapi bagaimana memastikan setiap aktivitas ekonomi membawa kebaikan, kejujuran, dan tidak merugikan pihak lain. Itulah yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam setiap praktik muamalah beliau,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya profesionalitas dalam dunia usaha. Menurutnya, kualitas akhlak, amanah, dan tanggung jawab merupakan faktor utama yang menentukan keberlangsungan ekonomi umat.

“Profesionalitas dan amanah itu menjadi kunci utama dalam membangun ekonomi yang sehat. Tanpa itu, kepercayaan akan hilang, dan keberkahan dalam usaha juga sulit didapat,” tambahnya.

Dalam pemaparannya, Kiai Maimun Saidi juga menyoroti pentingnya keseimbangan sosial dalam kegiatan ekonomi. Ia menjelaskan bahwa Islam mengajarkan agar setiap aktivitas ekonomi tidak hanya berfokus pada kepentingan individu, tetapi juga harus mempertimbangkan dampak terhadap masyarakat luas.

“Ekonomi Islam harus membawa manfaat bersama. Tidak boleh ada pihak yang dirugikan. Harus ada keseimbangan antara mencari keuntungan dan menjaga hubungan sosial,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa prinsip saling ridha dalam transaksi menjadi salah satu pilar penting dalam ekonomi Islam. Dengan adanya kerelaan kedua belah pihak, maka aktivitas ekonomi tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Kajian berlangsung secara interaktif. Jamaah terlihat menyimak dengan serius, bahkan beberapa di antaranya aktif mengajukan pertanyaan terkait penerapan ekonomi Islam dalam kehidupan modern, seperti dalam usaha mikro, perdagangan sehari-hari, hingga transaksi digital yang semakin berkembang.

Diskusi yang terjadi menunjukkan bahwa ekonomi Islam bukan hanya konsep teoritis, tetapi memiliki relevansi kuat dalam kehidupan nyata masyarakat saat ini. Hal ini juga menjadi perhatian penting dalam penyampaian materi oleh para narasumber.

Sepanjang kegiatan, suasana majelis juga beberapa kali diisi dengan lantunan sholawat yang menambah kekhusyukan dan kebersamaan jamaah. Momen tersebut memperkuat nuansa spiritual dalam kegiatan yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga religius.

Majelis Shongai Barokah sendiri terus berkomitmen menjadi ruang kajian yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan realitas sosial dan ekonomi umat. Melalui pendekatan yang kontekstual, majelis ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada masyarakat tentang ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam bidang ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *