Daerah  

Kasus DBD Menurun, Dinkes Sumenep Minta Masyarakat Tetap Waspada

Ilustrasi tetap menjaga kewaspadaan adanya DBD (Pixabay)
Ilustrasi tetap menjaga kewaspadaan adanya DBD (Pixabay)

EjaToday.com — Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep mengingatkan masyarakat agar tetap waspada mengenai kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) meski trennya di Kota Keris lagi turun.

Berdasarkan data Dinkes P2KB Sumenep, hingga akhir Desember 2025 tercatat sebanyak 1.159 kasus DBD.

Jumlah tersebut menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 1.532 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Samsuri, mengatakan penurunan ini menjadi indikator positif atas keberhasilan upaya pencegahan yang dilakukan secara berkelanjutan di tingkat masyarakat.

“Kesadaran warga terhadap kebersihan lingkungan semakin meningkat, ditopang peran aktif kader jumantik di desa-desa serta edukasi rutin dari puskesmas,” ujar Samsuri dikutip pada Kamis, 22 Januari 2026.

Ia menjelaskan, pemberian abate secara berkala serta gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) turut berkontribusi signifikan dalam menekan angka kasus DBD selama 2025.

Meski demikian, Samsuri mengungkapkan Kecamatan Kalianget masih menjadi wilayah dengan jumlah kasus DBD tertinggi dibandingkan kecamatan lain di Sumenep.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi perhatian khusus Dinkes untuk memperkuat pengawasan dan edukasi lanjutan.

Memasuki Januari 2026, Dinkes P2KB Sumenep mulai menerima laporan awal kasus DBD, meski jumlah pastinya masih dalam tahap pendataan oleh petugas lapangan di masing-masing wilayah kerja puskesmas.

“Secara historis, puncak kasus DBD memang sering terjadi pada awal tahun. Karena itu, laporan sudah mulai bermunculan dan terus kami pantau,” katanya.

Dinkes P2KB Sumenep mengimbau masyarakat untuk tetap melakukan langkah antisipasi.

Caranya adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan, menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, serta mengubur barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti.

Selain itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami demam selama tiga hari berturut-turut.

Deteksi dan penanganan dini dinilai krusial untuk mencegah risiko fatal akibat keterlambatan penanganan DBD.

“Penurunan kasus harus menjadi motivasi untuk semakin disiplin, bukan justru lengah,” kuncinya.(Hn/Dzul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *