Catatan Haji Taufadi: Tradisi Pelepasan, Pengabdian kepada Orang Tua, dan Kritik Pelayanan

Ejatoday.com – Perjalanan ibadah haji bukan hanya soal perpindahan dari satu tempat ke tempat lain menuju Tanah Suci. Di balik setiap koper yang dibawa jamaah, tersimpan harapan, pengorbanan, dan kisah yang penuh makna.

Hal itulah yang tergambar dalam catatan perjalanan ibadah haji 1447 H/2026 M yang ditulis Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Pamekasan, Taufadi.

Melalui tiga catatan berseri yang dimuat dalam laman Ansarimaduraraya.id, Taufadi tidak hanya menceritakan pengalaman pribadi bersama keluarga saat berhaji, tetapi juga merekam suasana pelayanan, dinamika jamaah lanjut usia, hingga berbagai persoalan teknis yang ditemui selama proses ibadah berlangsung.

Catatan tersebut kemudian mendapat perhatian sejumlah media lain di Madura maupun nasional karena dinilai menghadirkan sudut pandang humanis sekaligus kritik konstruktif terhadap penyelenggaraan haji tahun ini.

Dari Pamekasan Menuju Asrama Haji

Pada catatan pertama, Taufadi menggambarkan suasana keberangkatan dari Madura menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya yang sarat nuansa religius dan kekeluargaan. Tradisi pelepasan jamaah haji khas Madura terasa begitu kuat, mulai dari doa bersama, pembacaan salawat, hingga keluarga yang mengantar sejak dini hari dengan suasana haru.

Bagi masyarakat Madura, keberangkatan haji bukan sekadar perjalanan pribadi, tetapi kehormatan keluarga yang dipenuhi doa dan restu banyak orang. Tidak sedikit kerabat dan tetangga yang datang bersalaman sambil menitip doa agar kelak juga mendapat kesempatan menunaikan ibadah ke Tanah Suci.

“Perjalanan haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi perjalanan batin seluruh keluarga,” tulisnya dalam catatan tersebut.

Ia juga menceritakan bagaimana jamaah harus menyesuaikan diri dengan berbagai aturan baru penyelenggaraan haji 2026. Meski secara umum proses keberangkatan berjalan tertib, ia mencatat masih ada persoalan teknis yang perlu menjadi perhatian agar jamaah, terutama lansia, tidak mengalami kebingungan.

Kisah keberangkatan itu kemudian diperkuat berbagai media yang menyoroti pengabdian seorang anak mendampingi ibu dan mertua berhaji setelah penantian selama 14 tahun.

Merasakan Layanan dari Juanda hingga Jeddah

Pada catatan kedua, fokus cerita bergeser pada pengalaman jamaah sejak berada di Bandara Juanda hingga tiba di Jeddah, Arab Saudi. Dalam tulisannya, Taufadi mengakui bahwa ada sejumlah perbaikan layanan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Ia menggambarkan proses keberangkatan yang relatif tertata, termasuk pengaturan kloter dan distribusi layanan dasar bagi jamaah. Namun, di tengah berbagai kemajuan tersebut, ia tetap menyoroti perlunya peningkatan kualitas pendampingan jamaah lansia.

“Secara umum pelayanan lebih tertib, tetapi kebutuhan jamaah lansia masih memerlukan perhatian lebih detail,” tulisnya.

Narasi itu memperlihatkan bahwa kritik yang disampaikan bukan untuk menjatuhkan penyelenggara, melainkan sebagai bentuk masukan agar kualitas pelayanan haji semakin baik. Dalam catatan tersebut, Taufadi juga menggambarkan kelelahan jamaah saat transit, antrean panjang, hingga kondisi fisik lansia yang harus terus dipantau keluarga.

Kesan humanis terasa kuat ketika ia menceritakan bagaimana jamaah saling membantu di tengah keterbatasan. Ada yang berbagi makanan, membantu mendorong kursi roda, hingga saling mengingatkan jadwal ibadah.

Di sisi lain, ia mengapresiasi petugas yang tetap berupaya memberikan pelayanan maksimal di tengah padatnya aktivitas musim haji.

Ketika Tagline Ramah Lansia Belum Sepenuhnya Dirasakan

Catatan ketiga menjadi bagian paling kritis sekaligus emosional. Dalam tulisan itu, Taufadi menyoroti pengalaman Kloter SUB-74 saat melaksanakan umrah wajib di Masjidil Haram.

Ia menilai tagline “Ramah Lansia, Disabilitas dan Perempuan” belum sepenuhnya dirasakan jamaah di lapangan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah minimnya pendampingan terhadap jamaah lansia ketika menjalankan rangkaian ibadah umrah wajib.

“Kami melihat masih ada jamaah lansia yang harus berjuang sendiri dalam mobilitas ibadah,” tulisnya.

Menurutnya, kondisi itu membuat keluarga jamaah harus mengambil peran lebih besar untuk memastikan orang tua mereka tetap aman dan mampu menjalankan ibadah dengan baik. Ia juga menyinggung keterbatasan jumlah petugas layanan yang menyebabkan pendampingan belum optimal.

Meski demikian, Taufadi tetap menekankan bahwa kritik tersebut disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kualitas pelayanan jamaah Indonesia di Tanah Suci. Ia berharap evaluasi terus dilakukan agar slogan pelayanan ramah lansia benar-benar dirasakan seluruh jamaah, bukan sekadar menjadi jargon administratif.

Rangkaian catatan perjalanan haji tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi dokumentasi pribadi, tetapi juga potret sosial tentang makna pengabdian keluarga, semangat gotong royong jamaah, dan pentingnya perbaikan layanan ibadah haji secara berkelanjutan.

Catatan berseri itu pun masih akan berlanjut, menghadirkan pengalaman lain dari perjalanan spiritual jamaah haji asal Madura di Tanah Suci.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *